HIJRAH MENUJU PERADABAN MULIA

Oleh: Ustadz Dr, Agus Setiawan, Lc., MA*)

Sungguh tepat para sahabat (ra) memilih peristiwa pindahnya Rasulullah (Saw) dari Mekkah ke Madinah (hijrah) sebagai sistem penanggalan Islam. Karena peristiwa hijrah adalah awal momentum kebangkitan ummat menuju peradaban mulia. Kalau kita kaji, maka esensi hijrah itu adalah perubahan; yakni berubah dari situasi yang tidak baik atau kurang baik, menuju situasi yang baik atau lebih baik. Yang tak kalah penting adalah: bahwa perubahan itu ditandai dengan pergerakan (action).

Sudah menjadi sunnatullah bahwa alam semestea ini memiliki pergerakan. Air yang tergenang pun akan menjadi sumber penyakit jika tidak mengalir. Begitu juga hijrah para Nabi (alaihimus salam) yang mengokohkan hukum alam, bahwa dengan pergerakan dan perubahan itu akhirnya kelestarian perjuangan dan kemenangan akan terwujud.

Merubah Yatsrib Kepada Madinah

Sebelum Nabi (Saw) hijrah, kota yang dituju itu dikenal dengan nama Yatsrib. Ketika Rasulullah (Saw) tiba di kota itu, beliau mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah. Secara bahasa, Madinah artinya adalah kota. Tapi dari akar kata itu juga lahir kata tamaddun, yang artinya adalah peradaban.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebuah kota mestinya menjadi tempat orang-orang yang beradab. Dari mulai hati, pemikiran, akhlak dan karya-karya manusia di dalamnya, mestilah menujukan peradaban yang tinggi.

Membangun Masjid

Selain mengubah Yatsrib menjadi Madinah, maka hal lain yang Rasulullah (Saw) lakukan adalah membangun masjid. Pembangunan masjid ini merupakan pertanda bahwa peradaban Islam tidak lepas dari ruku’ dan sujud ummat Islam kepada Allah azza wa jalla. Tentu ruku’ dan sujud yang dimaksudkan di sini adalah ketaatan penuh kepada Allah Ta’ala. 

Dengan pembangunan masjid ini pula Nabi Muhammad (Saw) ingin menyampaikan pesan, bahwa mewujudkan peradaban Islam itu bagi Muslim adalah tonggak ubudiyah bentuk pengabdian dan penghambaan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Dibangunnya masjid sejak awal perjalanan dalam membangun peradaban menunjukan bahwa peradaban dalam Islam tidak ditandai oleh gedung-gedung pencakar langit. Tidak pula oleh jumlah uang di pusat bisnis dan perbankan. Tetapi peradaban Islam tidak bisa terlepas dari hubungan nilai-nilai ketuhanan.

Peradaban inilah yang didambakan oleh semua manusia yang normal. Manusia menginginkan kebahagiaan (sa’adah) dan bukan sekedar kesenangan (mataa’). Nilai-nilai ketuhanan itulah yang akan membawa kesenangan kepada kebahagiaan. Tanpa nilai samawi, maka kesenangan akan hampa dan jauh dari kebahagiaan.

Kemandirian Ekonomi Ummat

Pada tahun kedua setelah hijrahnya Rasulullah (Saw), turunlah perintah berzakat. Dalam menyikapi perintah zakat ini, Rasulullah (Saw) tidak saja memahaminya sekedar perintah mengeluarkan harta. Tetapi dipahami dengan visi yang lebih besar, yaitu membangun kekuatan ekonomi bagi ummat.

Untuk merealisasikan hal tersebut, maka Nabi (Saw) melakukan beberapa hal, antara lain:

  1. Mengajak para Sahabat untuk membeli sebuah sumur.

    Perlu diketahui bahwa pada saat Nabi (Saw) hijrah, di Madinah saat itu hanya ada satu sumur. Dan sumur itu milik orang Yahudi. Sumur saat itu sangat vital dalam kemandirian masyarakat muslim. Atas anjuran Rasulullah (Saw), sumur tersebut dibeli oleh sahabat Utsman bin Affan (ra)

  2. Menguasai pasar.

    Saat itu orang-orang Yahudi memiliki kelebihan dalam bisnis dan keuangan. Maka Nabi (Saw) memotivasi para sahabat yang sekiranya memiliki modal dan kemampuan bisnis untuk menguasai pasar. Penjelasan tentang urgensi agar ummat memiliki pasar sebagai pusat penguatan perekonomian ummat ini disambut baik oleh Abdurrahman bin Auf dan lainnya.

Dengan demikian, memperingati tahun baru hijrah seharusnya menyadarkan kita akan tanggung jawab bersama (mas-uliyah jama’iyyah) untuk membangun kembali peradaban mulia yang pernah diletakan pondasi-pondasinya oleh para pendahulu kita.

Wallahu A’lam

IMG-20210418-WA0020.jpg
 

Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA